PEKANBARU ||Serangkaian banjir besar dan longsor yang melanda Sumatra Barat (Sumbar), Sumatra Utara (Sumut), dan Aceh membuat ribuan warga terdampak. Menyikapi kondisi tersebut, Himpunan Mahasiswa se-Universitas Abdurrab turun ke lapangan menggelar aksi penggalangan dana bertajuk Aksi Bumbu Kemanusiaan, Rabu 03 Desember 2025 di Kota Pekanbaru.
Aksi ini sepenuhnya merupakan inisiatif mahasiswa, tanpa campur tangan atau kerja sama dari pihak luar. Para mahasiswa menyebut langkah ini sebagai gerakan solidaritas spontan untuk membantu warga yang sedang berada dalam situasi darurat.
Turun ke Jalan di Dua Titik Ramai Pekanbaru
Penggalangan dana dilakukan di dua titik dengan arus masyarakat tinggi:
1. Persimpangan Jalan Jenderal Sudirman – Jalan Gajah Mada (Depan Kantor Gubernur Riau)
Mahasiswa berdiri di tepi jalan membawa poster dan kotak donasi. Sejumlah pengendara terlihat memperlambat kendaraan untuk memberikan sumbangan. Lokasi ini dipilih karena menjadi salah satu titik paling ramai di pusat kota.
2. Tugu Perjuangan, Jalan Diponegoro – dekat Kediaman Gubernur Riau
Di titik kedua, relawan kembali menggelar aksi dengan formasi yang lebih besar. Mahasiswa menyebar di beberapa sisi jalan, menyapa warga yang melintas, dan menjelaskan tujuan penggalangan dana.
Aksi di kedua titik berlangsung kondusif. Mahasiswa dari berbagai himpunan tampak kompak, mengenakan almamater kampus dan atribut kemanusiaan.
Aksi Murni, Tanpa Kolaborasi Eksternal
“Miftahul Fauzan Selaku Koordinator lapangan menyebut aksi ini sepenuhnya digerakkan oleh mahasiswa lintas himpunan. Mereka menolak adanya anggapan bahwa gerakan ini berkaitan dengan pihak luar, organisasi tertentu, ataupun agenda kampanye.
“Ini gerakan dari kami, untuk masyarakat. Tidak ada kolaborasi, tidak ada kepentingan, dan tidak ada tujuan lain selain membantu korban bencana,” kata salah satu relawan yang terlibat.
Relawan lainnya menambahkan bahwa aksi cepat seperti ini penting dilakukan karena bantuan di lapangan biasanya membutuhkan waktu sebelum benar-benar menjangkau seluruh titik terdampak.
Nicholas Alkonio: ‘Kami Tidak Menunggu Instruksi, Kami Bergerak’
Salah satu mahasiswa yang ikut menggerakkan aksi, Nicholas Alkonio, mengatakan bahwa kondisi di Sumbar, Sumut, dan Aceh membuat mahasiswa merasa terpanggil untuk bergerak.
“Aksi ini adalah wujud kepedulian kami. Saudara-saudara kita di tiga provinsi itu sedang menghadapi situasi yang sangat sulit. Maka kami hadir bukan untuk formalitas, tetapi untuk benar-benar membantu,” ujar Nicholas.
Ia menegaskan bahwa mahasiswa bergerak tanpa menunggu perintah.
“Ini gerakan murni, tanpa kolaborasi, tanpa kepentingan apa pun. Kami bergerak karena kemanusiaan harus didahulukan. Semoga bantuan yang terkumpul bisa sedikit meringankan beban mereka,” tambahnya.
Menurut Nicholas, mahasiswa memiliki posisi moral untuk turut hadir saat masyarakat membutuhkan bantuan cepat. “Kalau bukan kami yang memulai, siapa lagi?” ujarnya.
Respons Publik Tinggi, Donasi Mengalir Sepanjang Hari
Aksi yang berlangsung dari pagi hingga sore itu mendapat perhatian luas dari masyarakat Pekanbaru. Banyak warga yang berhenti tiba-tiba hanya untuk menyalurkan bantuan. Sebagian memberikan uang tunai, sebagian lainnya menyerahkan paket kebutuhan pokok.
“Alhamdulillah, masyarakat sangat mendukung. Banyak yang berhenti walaupun lampu hijau sudah menyala. Ada yang ngasih uang receh sampai ratusan ribu,” kata Nicholas.
Beberapa warga mengaku tergerak karena melihat semangat mahasiswa yang berdiri di bawah terik matahari maupun gerimis.
Mahasiswa Jadi Motor Kepedulian Sosial
Aksi ini menjadi bukti bahwa mahasiswa tetap hadir sebagai motor penggerak solidaritas sosial. Gerakan yang lahir dari kesadaran bersama ini diharapkan tidak hanya membantu korban bencana, tetapi juga memantik gerakan serupa di masyarakat luas.
“Hari ini kami turun untuk saudara-saudara di Sumbar, Sumut, dan Aceh. Besok mungkin kami akan turun lagi untuk daerah lain jika dibutuhkan,” kata Nicholas Alkonio












